I was a beautiful woman who is looking for his true spirit and will be successful in achieving the desired future goals are always trying and praying, I love my father and mother and my two sisters. I believe GOD is always with me
with this blog I can shed everything and write what I feel, happy reading guys!! Keep follow @Yuanaanggun


Kamis, 02 Januari 2014

True Love.........



Selamat Membaca guysss , I hope u like about my story mwhehe :’3
Adzan isya telah berkumandang, menandakan waktu sholat isya bagi umat muslim telah tiba. Tapi tidak untuk beberapa umat muslim yang tidak menghiraukan panggilan sholat tersebut, seperti 2 cewek manis yang sedang sibuk dengan perbincangan mereka di teras rumah. Rini dan dina, 2 cewek cantik ini sedang sibuk bercanda riang sampai akhirnya canda riang itu terhenti saat ada suara seseorang menyapa mereka dari luar pagar kediaman Rini tersebut. “Assalamualaikum” terdengar suara Tino dari luar pagar, “Walaikumsalam” sahut 2 cewek cantik itu dengan wajah tampak kebingungan.
“Ngapain lo ke sini?” Tanya Rini sambil berjalan menuju pagar. “Hmmm ini, a.. aku.. aku mau ngajak kamu jalan, soalnya hari ini kan 1 tahun kita pacaran” jawab Tino dengan sedikit gugup. “Oohh, besok-besok deh gue lagi males banget keluar malam ini, sorry…”. Dengan wajah yang tampak kecewa pun Tino hanya menyodorkan sebuah kado yang dipegangnya kepada Rini lalu beranjak pulang dengan langkah yang lunglai.
Tino adalah sosok cowok yang tegar, sabar dan penuh dengan harapan. Tegar dan sabar menunggu Rini hingga bisa benar-benar mencintainya. Tino dan Rini memang sudah pacaran semenjak 1 tahun yang lalu, tapi cinta dan kasih sayang yang diberikan Rini kepada Tino hanyalah sebuah kebohongan belaka, saat hari pertama mereka pacaran hingga kini Tino hanyalah sebuah alat pelarian bagi Rini. Karena siapa lagi yang bisa memberikan perhatian dan kasih sayang kepada Rini selain Tino?. Semenjak kedua orangtua Rini meninggal karena kecelakaan setahun yang lalu, Rini tinggal bersama tantenya yang tentu saja perhatian dan kasih sayang tante nya itu tidak akan sama seperti perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Disaat itu lah Tino datang dengan perhatian dan kasih sayang untuk Rini. Meskipun perhatian dan kasih sayang yang di berikan Tino sudah berlebih untuk Rini, tapi cinta tidak bisa dipaksakan, tetap saja Tino hanyalah sebuah pelarian belaka.
“Kenapa sih lo dingin banget sama Tino Rin?” cetus Dini sedikit kesal. “Yah gak apa-apa, gue memang gitu kok sama dia” jawab Rini. “Tapi dia itu kan pacar lo” tambah Dini dengan nada yang sedikit tinggi. “Memang, tapi gue gak cinta dia Din, gue gak sayang dia, gue pacaran sama dia karena gue gak punya pacar aja” jawab Rini dengan santai. “Astaga Rini tega betul lo, Tino udah baik banget sama lo, ternyata lo…” Ucapan Dini terhenti karena belum sempat selesai berbicara Rini memotong ucapannya. “kalau Tino baik kenapa gak lo aja Din yang pacaran sama Tino?”. Pembicaraan berakhir dengan langkah kaki Rini memasuki rumah meninggalkan Dini.
Keesokan harinya Rini sudah melupakan janjinya dengan Tino karena dia sudah mendapat ajakan makan malam dari Insan teman sekampusnya.
“Udah nyampe, makasih ya” kata Rini sembari turun dari motor lelaki tampan yang mengantarnya pulang. Sosok lelaki muncul dari balik pohon di depan rumah Rini. “Baru pulang jalan?” Tanya sosok itu kepada Rini yang sedikit ketakutan. “Eh elo Tino, ngagetin orang aja, kenapa?” Tanya Rini yang sudah merasa lega setelah tau ternyata sosok itu adalah Tino. “Siapa itu? Tanya Tino sambil mendekati Rini. “kalau gue bilang itu pacar baru gue lo marah?, terserah elo deh, kayak nya hubungan kita sampe di sini aja” jawab Rini mengacuhkan Tino. “kenapa?” Tanya Tino dengam suara lantang. “kenapa? Tanya diri lo sendiri, apa selama ini lo ngerasa udah bahagiain gue? Apa yang gue minta bisa lo beri? Apa yang lo punya? Gak ada”. Jawab Rini dengan nada yang semakin tinggi. “oohh gitu, makasih ya atas semuanya, dan maaf kalau selama ini aku gak bisa bahagiain kamu, maaf kalau aku gak bisa memberikan apa yang kamu minta” sahut Tino sembari beranjak pergi meninggal kan Rini. Dengan rasa tidak sedikit pun bersalah Rini masuk rumah dan mengunci pintu. Sejak malam itu mereka tidak pernah berhubungan lagi, Dini sebagai sahabat dekat Rini merasa kasihan terhadap Tino, karena Dini telah mengetahui apa yang terjadi di antara Rini dan Tino.
Sebulan sudah berlalu, Rini melamun sendiri di kamarnya memikirkan apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Tadi malam Isan pacar baru Rini meminta hubungan mereka berakhir. Faktanya Insan baru saja menemukan cewek yang jauh lebih baik dari segi fisik dari pada Rini. “Mungkin gue kena karma kali karena gue udah bikin Tino sakit hati” gumam Rini dalam hati. Di waktu yang sama Dini sahabat Rini sedang menemui Tino, mereka berbincang bincang seputar hubungan Rini dan Tino dulu.
Tahun silih berganti, 3 tahun sudah Rini dan Tino putus. Kini Rini masih sendiri dan belum mendapatkan pasangan hidupnya. Kian hari Rini merasakan kesendiriannya, tidak ada lagi Tino berarti tidak ada lagi kado dan ucapan selamat ulang tahun dari orang special untuk Rini. Kini Rini sadar kasih sayang dan cinta yang diberikan Tino sudah sangat cukup untuk membahagiakannya, dikala susah maupun senang Tino selalu ada untuknya, hanya saja sudah terlambat bagi Rini untuk menyadari semua itu, kini Tino telah pergi membawa sakit hatinya tak tau kemana. Pernah beberapa kali Rini mencoba menghubungi Tino tapi nomor handphone Tino sudah tidak aktif lagi, sesekali Rini mampir ke rumah Tino namun menurut tetangga Tino dan keluarganya telah pindah rumah ke luar kota.
“Ayo jalan keluar, gue bt nih” ajak Dini yang memperhatikan Rini melamun. Tanpa berfikir panjang Rini pun mengikuti ajakan Dini, mereka pergi ke sebuah mall yang ada di Bandar Lampung untuk menghibur diri mereka. Sekilas Rini terlupa akan penyesalan nya kepada Tino hingga sosok Tino yang sudah tak asing lagi bagi Rini terlihat di di depannya sambil tersenyum.
“Ti… Ti… Tino” terucap di bibir merah Rini nama cowok yang sudah dia sakiti dulu. Dengan senyum manisnya Tino menghampiri kedua cewek yang tercengang melihat kehadiran dirinya. Mereka bertiga bebincang lama dan saling bertanya kabar. Sempat terlintas di benak Rini untuk meminta maaf atas apa yang telah dia lakukan kepada Tino, namun cewek cantik itu merasa enggan dan malu untuk memulai pembicaraan, hingga akhirnya Tino pun pamit pulang duluan.
Beberapa waktu setelah kepulangan Tino, 2 cewek manis itu pun beranjak pulang. Dengan rasa bersalah dan pikiran yang bingung bercampur aduk Rini melangkah menyeberangi jalan raya. “Rini awas” teriakan Dini dari seberang jalan mengagetkan Rini yang masih berada di tengah jalan. Karena lamunannya tentang Tino Rini tak menyadari dirinya dalam bahaya karena disaat itu ada sebuah truk yang melintas dengan kecepatan tinggi mengarah ke Rini. Rini yang kaget tak sempat lagi untuk menghindar dan hanya berdiam diri di tengah jalan menatap truk yang mengarah ke dirinya, hingga akhirnya sesuatu dari arah lain menghantamnya sebelum truk yang melaju kencang itu sampai ke Rini. Rini terlempar ke samping jalan, akibatnya kepala Rini tebentur batu dan berdarah. Dini yang melihat Rini terbaring di samping jalan pun langsung berlari mengejar Rini diikuti beberapa orang yang kebetulan berada di sekitar tempat kejadian.
Seminggu Rini terbaring di rumah sakit dan tak sadarkan diri, tak banyak teman dan kerabat yang menjenguk Rini, karena Rini adalah seorang cewek yang agak tetutup dan susah untuk bergaul. Tapi Dini sahabat baiknya selalu setia menemaninya di rumah sakit sampai dia sadarkan diri. Saat membuka mata Rini hanya diam sambil melihat sekitarnya, dilihatnya selang infuse, tabung udara, dan ranjang serba putih yang dia tiduri menyadarkan nya bahwa dia sedang berada di rumah sakit. “Syukur Alhamdulillah lo udah sadar Rin”, sapa Dini yang dari tadi sudah duduk di sampingnya dan tidak dia sadari. Rini hanya diam saja sambil menatap Dini dengan penuh tanya, karena Rini tidak tau apa yang terjadi kepadanya, yang dia tau hanyalah sebuah truk dengan kecepatan tinggi mengarah kedirinya dan setelah itu dia merasakan benturan dari arah lain lalu jatuh pingsan. Dengan penuh tanda tanya di benak Rini pun bertanya kepada Dini, “apa yang terjadi waktu itu Din?”, dengan gugup karena mengetahui semuanya Dini mengacuhkan pertanyaan Rini. “Ini diminum obatnya, kata dokter kalau lo udah sadar langsung disuruh minum obat”, ucap Dini mengalihkan pembicaraan.
Semakin hari Rini semakin sehat, hingga 4 hari kemudian Rini di izin kan dokter untuk pulang. Kepulangan Rini ke rumah dikagetkan oleh seorang anak kecil perempuan yang berumur sekitar 14 tahun yang sudah menunggu di rumahnya. “Kamu yang namanya Rini ya?”, tanya anak itu kepada Rini. “iya de, ada perlu apa?” jawab Rini kebingungan. “ooohh kamu orangnya, aku cuma mau lihat aja orang yang udah nyakiti hati kakak ku dan membuatnya pergi selamanya, aku benci kaamuuu”. Jawab anak itu dengan nada yang sangat lantang. Ucapan anak itu semakin membingungkan Rini yang baru saja pulang dari rumah sakit dan belum sempat masuk ke rumahnya. Dilihatnya anak itu menangis lalu pergi berlari meninggalkan Rini dan Dini, Dini yang tau anak itu sebenarnya adalah adik kandungnya Tino hanya menundukkan air kepala dan meneteskan air mata, yang membuat Rini semakin bingung apa yang tejadi sebenarnya.
“Lo kenapa Din?, terus anak yang tadi itu siapa?” tanya Rini kebingungan. Dini hanya diam tidak menjawab tetap menundukkan kepala dan meneteskan air matanya. Dengan sedikit memaksa Rini kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada Dini. “Anak itu adik kandungnya Tino Rin”, jawab Dini sembari mengangkat kepala dan mengusap air matanya. Dini yang kaget mengetahui anak itu adik kandungnya Tino hanya terdiam dan mengajak Dini bertemu Tino untuk meminta maaf atas apa yang telah dia lakukan kepada Tino. “Udah Rin lupain aja, toh itu Cuma masa lalu, sudah 3 tahun yang lalu”, jawab Dini dengan suara yang sedikit lemas. “Gak Din, gue harus ketemu Tino sekarang, gue harus minta maaf sekarang juga sama Tino, gue juga mau minta maaf sama adiknya Tino tadi, selama ini sebenarnya lo tau kan dimana Tino tinggal?, Cuma lo gak mau ngasih tau gue kan Din?” pertanyaan yang bertubi tubi dari Rini itu membuat Dini semakin meneteskan air matanya. “Oke kalau lo memaksa, tapi sebelumnya lo buka dulu lemari tempat lo nyimpan kado-kado yang diberikan Tino untuk lo yang gak pernah lo buka, yang gak pernah lo tau apa isi kado itu, setelah itu gue janji bakal bawa lo kemana Tino sekarang berada dan sambil lo liat isi kado itu gue akan kasih lo apa yang sebenarnya terjadi”, jawab Dini sedikit marah karena pertanyaan yang bertubi-tubi.
Tanpa banyak tanya Rini pun menuruti permintaan Dini. Tino sering kali memberikan Rini kado di hari-hari spesial mereka seperti ulang tahun, valentine, hari jadi mereka, bahkan jika Rini mendapatkan prestasi di kampus Tino pun pasti memberikan kado untuk Rini. Hanya saja Rini tidak pernah membuka kado tersebut karena Rini yakin isi kado yang di berikan Tino untuknya bukanlah barang yang berarti untuk Rini. Tino adalah seseorang yang berasal dari keluarga sederhana yang menurut Rini pastilah tidak akan mampu memberikan apa yang dia minta, Berbanding terbalik dengan Rini yang terbiasa hidup mewah dari kecil.
Bergegas Rini membuka lemari tempat dia menyimpan kado-kado pemberian Tino, saat melihat isi kado-kado itu gerakan tangan Rini terhenti, dia kaget dan hampir tidak percaya karena Ternyata kado-kado itu isi nya adalah semua barang-barang mahal yang pernah diminta Rini kepada Tino. Dini pun menepati janjinya untuk menjelaskan semua hal yang belum diketahui Rini, karena penjelasan Dini itu Rini terduduk lemas menangis sambil memeluk kado terakhir yang diberikan Tino saat hari jadi mereka.
Sebelum Tino memberikan kado, dia selalu bertanya kepada Rini apa yang Rini inginkan, Rini selalu meminta barang-barang mahal yang tidak mampu dibeli oleh Tino. Tapi karena rasa cinta dan kasih sayang Tino kepada Rini terlalu besar, Tino pun memaksakan diri untuk memberikan apa yang Rini minta. Tino rela bekerja keras dan menabung untuk membeli barang-barang tersebut, tapi Rini yang melihat keadaan perekonomian Tino yang tidak mungkin mampu membeli apa yang dia minta itu tidak pernah membuka kado pemberian Tino. Lebih terpukul lagi Rini saat Dini memberi tahu nya bahwa Tino telah meningggal dunia. Sebenarnya sesuatu yang menghantam Rini dari arah lain sebelum truk dengan berkecepatan tinggi itu adalah Tino yang berlari lalu mendorong Rini dari tengah jalan. Hasilnya Rini selamat, hanya terlempar ke samping jalan dan hanya membentur batu, namun Tino yang tak sempat lagi menghindar ditabrak oleh truk yang melaju itu dan meninggal dunia. Meski sudah 3 tahun yang lalu Tino tidak pernah membenci Rini, malah Tino tetap mencintai dan menyayangi Rini, hingga dia rela mengorbankan nyawanya hanya untuk Rini.
Rini sadar kesalahan yang telah dia lakukan, dia sangat menyesal atas perbuatannya kepada Tino 3 tahun yang lalu. Kepedihan dan penyesalan yang mengiris hatinya sekarang telah terlambat, isak tangis dan permohonan maafnya kini tak berguna lagi karena Tino telah tiada. Dipeluk eratnya Dini sambil menangis, Kini dia sadar orang-orang yang menyayanginya satu persatu telah tiada, berawal dari kedua orangtuanya dan Tino pacar pelariannya. Dan kini hanya tinggal Dini, sahabat terbaiknya.
Maaf kalo ini cerpen ada salah salahnya gue bukan penulis hanya saja gue pengen meluapkan hobby yang sedikit gemar nulis dan ngarang haha btw bentar lagi uas semoga lancar dan dapet nilai IPK tinggi dan dpt beasiswa Amin. Oh iya haapy new year , 2014 be better AMIN. KEJARTARGET KEJAR IMPIAN mwhehe:’3 keep follow @Yuanaanggun.
Yuana anggun sari mahasiswa polinela 18th yang lagi berusaha moveon.. see you babayyy muwaaaaah!:*