Selamat Membaca
guysss , I hope u like about my story mwhehe :’3
Adzan
isya telah berkumandang, menandakan waktu sholat isya bagi umat muslim telah
tiba. Tapi tidak
untuk beberapa umat muslim yang tidak menghiraukan panggilan sholat tersebut,
seperti 2 cewek manis yang sedang sibuk dengan perbincangan mereka di teras
rumah. Rini dan dina, 2 cewek cantik ini sedang sibuk bercanda riang sampai
akhirnya canda riang itu terhenti saat ada suara seseorang menyapa mereka dari luar
pagar kediaman Rini tersebut. “Assalamualaikum” terdengar suara Tino dari luar
pagar, “Walaikumsalam” sahut 2 cewek cantik itu dengan wajah tampak
kebingungan.
“Ngapain lo ke sini?” Tanya Rini sambil berjalan menuju pagar. “Hmmm ini, a..
aku.. aku mau ngajak kamu jalan, soalnya hari ini kan 1 tahun kita pacaran” jawab Tino dengan
sedikit gugup. “Oohh, besok-besok deh gue lagi males banget keluar malam ini,
sorry…”. Dengan wajah yang tampak kecewa pun Tino hanya menyodorkan sebuah kado
yang dipegangnya kepada Rini lalu beranjak pulang dengan langkah yang lunglai.
Tino
adalah sosok cowok yang tegar, sabar dan penuh dengan harapan. Tegar dan sabar
menunggu Rini hingga bisa benar-benar mencintainya. Tino dan Rini memang sudah
pacaran semenjak 1 tahun yang lalu, tapi cinta dan kasih sayang yang diberikan Rini kepada Tino hanyalah
sebuah kebohongan belaka, saat hari pertama mereka pacaran hingga kini Tino
hanyalah sebuah alat pelarian bagi Rini. Karena siapa lagi yang bisa memberikan
perhatian dan kasih sayang kepada Rini selain Tino?. Semenjak kedua orangtua
Rini meninggal karena kecelakaan setahun yang lalu, Rini tinggal bersama
tantenya yang tentu saja perhatian dan kasih sayang tante nya itu tidak akan
sama seperti perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Disaat itu lah Tino datang
dengan perhatian dan kasih sayang untuk Rini. Meskipun perhatian dan kasih
sayang yang di berikan Tino sudah berlebih untuk Rini, tapi cinta tidak bisa
dipaksakan, tetap saja Tino hanyalah sebuah pelarian belaka.
“Kenapa
sih lo dingin banget sama Tino Rin?” cetus Dini sedikit kesal. “Yah gak apa-apa,
gue memang gitu kok sama dia” jawab Rini. “Tapi dia itu kan pacar lo” tambah
Dini dengan nada yang sedikit tinggi. “Memang, tapi gue gak cinta dia Din, gue
gak sayang dia, gue pacaran sama dia karena gue gak punya pacar aja” jawab Rini
dengan santai. “Astaga Rini tega betul lo, Tino udah baik banget sama lo,
ternyata lo…” Ucapan Dini terhenti karena belum sempat selesai berbicara Rini
memotong ucapannya. “kalau Tino baik kenapa gak lo aja Din yang pacaran sama
Tino?”. Pembicaraan berakhir dengan langkah kaki Rini memasuki rumah meninggalkan Dini.
Keesokan
harinya Rini sudah melupakan janjinya dengan Tino karena dia sudah mendapat
ajakan makan malam dari Insan teman sekampusnya.
“Udah nyampe, makasih ya” kata Rini sembari turun dari motor lelaki tampan yang
mengantarnya pulang. Sosok lelaki muncul dari balik pohon di depan rumah Rini.
“Baru pulang jalan?” Tanya sosok itu kepada Rini yang sedikit ketakutan. “Eh
elo Tino, ngagetin orang aja, kenapa?” Tanya Rini yang sudah merasa lega
setelah tau ternyata sosok itu adalah Tino. “Siapa itu? Tanya Tino sambil
mendekati Rini. “kalau gue bilang itu pacar baru gue lo marah?, terserah elo
deh, kayak nya
hubungan kita sampe di sini aja” jawab Rini mengacuhkan Tino. “kenapa?” Tanya
Tino dengam suara lantang. “kenapa? Tanya diri lo sendiri, apa selama ini lo
ngerasa udah bahagiain gue? Apa yang gue minta bisa lo beri? Apa yang lo punya?
Gak ada”. Jawab Rini dengan nada yang semakin tinggi. “oohh gitu, makasih ya
atas semuanya, dan maaf kalau selama ini aku gak bisa bahagiain kamu, maaf
kalau aku gak bisa memberikan apa yang kamu minta” sahut Tino sembari beranjak
pergi meninggal kan Rini. Dengan rasa tidak sedikit pun bersalah Rini masuk
rumah dan mengunci pintu. Sejak malam itu mereka tidak pernah berhubungan lagi,
Dini sebagai sahabat dekat Rini merasa kasihan terhadap Tino, karena Dini telah
mengetahui apa yang terjadi di antara Rini dan Tino.
Sebulan
sudah berlalu, Rini melamun sendiri di kamarnya memikirkan apa yang telah
terjadi dalam hidupnya. Tadi malam Isan pacar baru Rini meminta hubungan mereka
berakhir. Faktanya Insan baru saja menemukan cewek yang jauh lebih baik dari
segi fisik dari pada Rini. “Mungkin gue kena karma kali karena gue udah bikin
Tino sakit hati” gumam Rini dalam hati. Di waktu yang sama Dini sahabat Rini
sedang menemui Tino, mereka berbincang bincang seputar hubungan Rini dan Tino
dulu.
Tahun
silih berganti, 3 tahun sudah Rini dan Tino putus. Kini Rini masih sendiri dan
belum mendapatkan pasangan hidupnya. Kian hari Rini merasakan kesendiriannya,
tidak ada lagi Tino berarti tidak ada lagi kado dan ucapan selamat ulang tahun
dari orang special untuk Rini. Kini Rini sadar kasih sayang dan cinta yang
diberikan Tino sudah sangat cukup untuk membahagiakannya, dikala susah maupun
senang Tino selalu ada untuknya, hanya saja sudah terlambat bagi Rini untuk
menyadari semua itu, kini Tino telah pergi membawa sakit hatinya tak tau
kemana. Pernah beberapa kali Rini mencoba menghubungi Tino tapi nomor handphone
Tino sudah tidak aktif lagi, sesekali Rini mampir ke rumah Tino namun menurut
tetangga Tino dan keluarganya telah pindah rumah ke luar kota.
“Ayo
jalan keluar, gue bt nih” ajak Dini yang memperhatikan Rini melamun. Tanpa
berfikir panjang Rini pun mengikuti ajakan Dini, mereka pergi ke sebuah mall
yang ada di Bandar Lampung untuk menghibur diri mereka. Sekilas Rini terlupa
akan penyesalan nya kepada Tino hingga sosok Tino yang sudah tak asing lagi
bagi Rini terlihat di di depannya sambil tersenyum.
“Ti… Ti… Tino” terucap di bibir merah Rini nama cowok yang sudah dia sakiti
dulu. Dengan senyum manisnya Tino menghampiri kedua cewek yang tercengang
melihat kehadiran dirinya. Mereka bertiga bebincang lama dan saling bertanya
kabar. Sempat terlintas di benak Rini untuk meminta maaf atas apa yang telah
dia lakukan kepada Tino, namun cewek cantik itu merasa enggan dan malu untuk
memulai pembicaraan, hingga akhirnya Tino pun pamit pulang duluan.
Beberapa
waktu setelah kepulangan Tino, 2 cewek manis itu pun beranjak pulang. Dengan
rasa bersalah dan pikiran yang bingung bercampur aduk Rini melangkah
menyeberangi jalan raya. “Rini awas” teriakan Dini dari seberang jalan
mengagetkan Rini yang masih berada di tengah jalan. Karena lamunannya tentang
Tino Rini tak menyadari dirinya dalam bahaya karena disaat itu ada sebuah truk
yang melintas dengan kecepatan tinggi mengarah ke Rini. Rini yang kaget tak
sempat lagi untuk menghindar dan hanya berdiam diri di tengah jalan menatap
truk yang mengarah ke dirinya, hingga akhirnya sesuatu dari arah lain
menghantamnya sebelum truk yang melaju kencang itu sampai ke Rini. Rini
terlempar ke samping jalan, akibatnya kepala Rini tebentur batu dan berdarah.
Dini yang melihat Rini terbaring di samping jalan pun langsung berlari mengejar
Rini diikuti beberapa orang yang kebetulan berada di sekitar tempat kejadian.
Seminggu
Rini terbaring di rumah sakit dan tak sadarkan diri, tak banyak teman dan
kerabat yang menjenguk Rini, karena Rini adalah seorang cewek yang agak tetutup
dan susah untuk bergaul. Tapi Dini sahabat baiknya selalu setia menemaninya di rumah
sakit sampai dia sadarkan diri. Saat membuka mata Rini hanya diam sambil
melihat sekitarnya, dilihatnya selang infuse, tabung udara, dan ranjang serba
putih yang dia tiduri menyadarkan nya bahwa dia sedang berada di rumah sakit.
“Syukur Alhamdulillah lo udah sadar Rin”, sapa Dini yang dari tadi sudah duduk
di sampingnya dan tidak dia sadari. Rini hanya diam saja sambil menatap Dini
dengan penuh tanya, karena Rini tidak tau apa yang terjadi kepadanya, yang dia
tau hanyalah sebuah truk dengan kecepatan tinggi mengarah kedirinya dan setelah
itu dia merasakan benturan dari arah lain lalu jatuh pingsan. Dengan penuh
tanda tanya di benak Rini pun bertanya kepada Dini, “apa yang terjadi waktu itu
Din?”, dengan gugup karena mengetahui semuanya Dini mengacuhkan pertanyaan
Rini. “Ini diminum obatnya, kata dokter kalau lo udah sadar langsung disuruh
minum obat”, ucap Dini mengalihkan pembicaraan.
Semakin
hari Rini semakin sehat, hingga 4 hari kemudian Rini di izin kan dokter untuk
pulang. Kepulangan Rini ke rumah dikagetkan oleh seorang anak kecil perempuan
yang berumur sekitar 14 tahun yang sudah menunggu di rumahnya. “Kamu yang
namanya Rini ya?”, tanya anak itu kepada Rini. “iya de, ada perlu apa?” jawab
Rini kebingungan. “ooohh kamu orangnya, aku cuma mau lihat aja orang yang udah
nyakiti hati kakak ku dan membuatnya pergi selamanya, aku benci kaamuuu”. Jawab
anak itu dengan nada yang sangat lantang. Ucapan anak itu semakin membingungkan
Rini yang baru saja pulang dari rumah sakit dan belum sempat masuk ke rumahnya.
Dilihatnya anak itu menangis lalu pergi berlari meninggalkan Rini dan Dini,
Dini yang tau anak itu sebenarnya adalah adik kandungnya Tino hanya menundukkan
air kepala dan meneteskan air mata, yang membuat Rini semakin bingung apa yang
tejadi sebenarnya.
“Lo
kenapa Din?, terus anak yang tadi itu siapa?” tanya Rini kebingungan. Dini
hanya diam tidak menjawab tetap menundukkan kepala dan meneteskan air matanya.
Dengan sedikit memaksa Rini kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada
Dini. “Anak itu adik kandungnya Tino Rin”, jawab Dini sembari mengangkat kepala
dan mengusap air matanya. Dini yang kaget mengetahui anak itu adik kandungnya
Tino hanya terdiam dan mengajak Dini bertemu Tino untuk meminta maaf atas apa
yang telah dia lakukan kepada Tino. “Udah Rin lupain aja, toh itu Cuma masa
lalu, sudah 3 tahun yang lalu”, jawab Dini dengan suara yang sedikit lemas.
“Gak Din, gue harus ketemu Tino sekarang, gue harus minta maaf sekarang juga
sama Tino, gue juga mau minta maaf sama adiknya Tino tadi, selama ini
sebenarnya lo tau kan dimana Tino tinggal?, Cuma lo gak mau ngasih tau gue kan
Din?” pertanyaan yang bertubi tubi dari Rini itu membuat Dini semakin
meneteskan air matanya. “Oke kalau lo memaksa, tapi sebelumnya lo buka dulu
lemari tempat lo nyimpan kado-kado yang diberikan Tino untuk lo yang gak pernah
lo buka, yang gak pernah lo tau apa isi kado itu, setelah itu gue janji bakal
bawa lo kemana Tino sekarang berada dan sambil lo liat isi kado itu gue akan
kasih lo apa yang sebenarnya terjadi”, jawab Dini sedikit marah karena
pertanyaan yang bertubi-tubi.
Tanpa
banyak tanya Rini pun menuruti permintaan Dini. Tino sering kali memberikan
Rini kado di hari-hari spesial mereka seperti ulang tahun, valentine, hari jadi
mereka, bahkan jika Rini mendapatkan prestasi di kampus Tino pun pasti
memberikan kado untuk Rini. Hanya saja Rini tidak pernah membuka kado tersebut
karena Rini yakin isi kado yang di berikan Tino untuknya bukanlah barang yang
berarti untuk Rini. Tino adalah seseorang yang berasal dari keluarga sederhana
yang menurut Rini pastilah tidak akan mampu memberikan apa yang dia minta,
Berbanding terbalik dengan Rini yang terbiasa hidup mewah dari kecil.
Bergegas
Rini membuka lemari tempat dia menyimpan kado-kado pemberian Tino, saat melihat
isi kado-kado itu gerakan tangan Rini terhenti, dia kaget dan hampir tidak
percaya karena Ternyata kado-kado itu isi nya adalah semua barang-barang mahal
yang pernah diminta Rini kepada Tino. Dini pun menepati janjinya untuk
menjelaskan semua hal yang belum diketahui Rini, karena penjelasan Dini itu
Rini terduduk lemas menangis sambil memeluk kado terakhir yang diberikan Tino
saat hari jadi mereka.
Sebelum
Tino memberikan kado, dia selalu bertanya kepada Rini apa yang Rini inginkan,
Rini selalu meminta barang-barang mahal yang tidak mampu dibeli oleh Tino. Tapi
karena rasa cinta dan kasih sayang Tino kepada Rini terlalu besar, Tino pun
memaksakan diri untuk memberikan apa yang Rini minta. Tino rela bekerja keras
dan menabung untuk membeli barang-barang tersebut, tapi Rini yang melihat
keadaan perekonomian Tino yang tidak mungkin mampu membeli apa yang dia minta
itu tidak pernah membuka kado pemberian Tino. Lebih terpukul lagi Rini saat
Dini memberi tahu nya bahwa Tino telah meningggal dunia. Sebenarnya sesuatu
yang menghantam Rini dari arah lain sebelum truk dengan berkecepatan tinggi itu
adalah Tino yang berlari lalu mendorong Rini dari tengah jalan. Hasilnya Rini
selamat, hanya terlempar ke samping jalan dan hanya membentur batu, namun Tino
yang tak sempat lagi menghindar ditabrak oleh truk yang melaju itu dan
meninggal dunia. Meski sudah 3 tahun yang lalu Tino tidak pernah membenci Rini,
malah Tino tetap mencintai dan menyayangi Rini, hingga dia rela mengorbankan
nyawanya hanya untuk Rini.
Rini
sadar kesalahan yang telah dia lakukan, dia sangat menyesal atas perbuatannya
kepada Tino 3 tahun yang lalu. Kepedihan dan penyesalan yang mengiris hatinya
sekarang telah terlambat, isak tangis dan permohonan maafnya kini tak berguna
lagi karena Tino telah tiada. Dipeluk eratnya Dini sambil menangis, Kini dia
sadar orang-orang yang menyayanginya satu persatu telah tiada, berawal dari
kedua orangtuanya dan Tino pacar pelariannya. Dan kini hanya tinggal Dini,
sahabat terbaiknya.
Maaf kalo
ini cerpen ada salah salahnya gue bukan penulis hanya saja gue pengen meluapkan
hobby yang sedikit gemar nulis dan ngarang haha btw bentar lagi uas semoga lancar
dan dapet nilai IPK tinggi dan dpt beasiswa Amin. Oh iya haapy new year , 2014
be better AMIN. KEJARTARGET KEJAR IMPIAN mwhehe:’3 keep follow @Yuanaanggun.
Yuana anggun
sari mahasiswa polinela 18th yang lagi berusaha moveon.. see you
babayyy muwaaaaah!:*